Monday, 14 September 2009

zuhdi_100_0973.JPG - zuhdi - BADONGO

zuhdi_100_0973.JPG - zuhdi - BADONGO

Shared via AddThis

Monday, 7 September 2009

Menyambut Gerbang Tiga Puluh Empat....

Tak terasa tahu demi tahun berjalan begitu cepatnya.Menggoreskan berjuta peristiwa yang mewarnai perjalanan hidupku.Ada tangis bahagia.Ada kesedihan mendera.Pun duka nestapa terkadang menghimpit jiwa.Terengah-engah kujalani hari,kadang berjalan sepi,lain hari berlari tanpa henti.Hingga kadang abai dengan banyaknya amanah yang menanti.

Masih saja aku berkutat dengan urusan domestikku.Sementara yang lain sudah mengukir beragam prestasi.....
'Mewakafkan' seluruh hidupnya di jalan Allah.Mengisi setiap detiknya dengan dzikrullah.Dan tak pernah lelah selalu mengingatkan manusia di jalan kebenaran.Sementara aku?Jangankan memperbaiki umat,menata diri saja aku masih kewalahan.Mendidik anak-anakku sendiri pun belum optimal.

Tapi.....
Sampai kapan aku akan berdalih?Dan mencari beribu apologi untuk menghindari 'perniagaan' dengan-Nya?
Sungguh,bila aku menunggu untuk menjadi sempurna untuk ikut berjuang,aku benar-benar akan merugi.Aku tak yakin Allah masih menitipkan banyak kesempatan padaku.Memperbaiki diri dan orang lain haruslah berjalan beriringan.

Maka,aku mengukir dua resolusi di penghujung usiaku ke-34 : menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan menjadi hamba yang semakin bertakwa pada Sang Maha.Dua tujuan yang walau tak mudah untuk dilakukan tapi aku yakin,selama ada tekad pasti Dia akan menguatkan.Bimbing hamba ya,Rabb.....!

Berkualitaskah Kebersamaan Itu?

Tadi pagi,ketika aku sedang sarapan,samar-samar kudengar syair lagu anak-anak dari TV. Kurang lebih begini bunyinya :

……Ayah dan ibu tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan………
……Mereka memberiku mainan yang banyak……..
……Juga baju-baju yang bagus…….…
…...Tapi bukan itu sebenarnya yang kuinginkan…..…
…...Aku ingin mereka bermain bersamaku………
…...Hingga aku tidak merasa kesepian…….

Sejenak, kuhentikan makan pagiku. Mencoba mencerna kalimat-kalimat yang barusan kudengar. Ouw…aku merasa tersentil. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi kebutuhan fisik anak-anakku. Selengkap mungkin. Mainan beraneka macam. Baju-baju bagus. Buku-buku pengetahuan. Plus vitamin serta obat-obatan komplit saat mereka sakit. Semua untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka semata.

Coba kutelusuri lagi. Apa yang telah kuberikan untuk memenuhi kebutuhan psikis mereka.Waktu bersama?Hmm…pulang kerja,aku memang bersama anak-anakku. Tapi berkualitaskah kebersamaan itu?Aku kadang asyik membaca, sementara mereka pun asyik memelototi acara TV. Kali lain,aku sibuk membereskan rumah ketika mereka pun riuh bermain game computer. Atau aku ngobrol kesana kemari dengan tetangga,sedang anak-anakku kebut-kebutan dengan sepeda kecilnya.

Tidak ada komunikasi dua arah antara aku dan anak-anakku. Kami memang bersama secara fisik, tapi aktivitas kami berlainan. Olala….sungguh selama ini aku keliru memaknai arti kebersamaan itu. Seharusnya aku mengajak mereka bicara atau berdiskusi tentang kegiatan mereka seharian tadi. Atau membacakan cerita-cerita berhikmah. Atau bermain bersama mereka. Atau apalah….yang pasti ada interaksi antara aku dan anak-anakku.

Baiklah….aku akan berusaha lebih bijak lagi menjalani kebersamaanku bersama keempat buah hatiku. I’ll try!!

Ultimatum

“Pulangnya jangan sampai sore lho,Mi…..,” sulungku menyatakan ‘warning’nya kala aku sedang bersiap pergi ke kantor pagi itu. Kuhitung, ini sudah peringatan yang kesekian diarahkannya padaku akhir-akhir ini.

Aku urung menstarter motorku, coba merenungi kata-katanya barusan. Pulang sore? Sebenarnya jam berapa sih akhir jam kerjaku? Tak sampai sore sebenarnya. Bila aku tak mampir-mampir, jam dua siang aku sudah bisa bercengkerama dengan anak-anakku di rumah. Aku punya sedikit waktu untuk tidur siang sebelum kembali disibukkan dengan aneka tugas domestikku, menyuapi dan memandikan anak-anak terutama.

Lalu, mengapa Zuhdi mengeluarkan ultimatum seperti itu padaku? Pasti ada sesuatu yang salah dengan jadwal harianku. Pulang kerja, mampir ke warung belanja sayuran untuk besok pagi, kadang sekalian ke warnet yang kebetulan letaknya berdampingan dengan tukang sayur langgananku. Awalnya cuma ‘having fun’ aja,refreshing setelah seharian lelah bekerja. Tak terasa satu jam, kadang dua jam berlalu tanpa terasa. Belum lagi kalau musim pameran buku tiba. Aku bisa betah sampai malam muter-muter cari buku buat nambah koleksi taman bacaanku.

Akhirnya.....aku pun sampai di rumah dalam keadaan capai. Tak sempat memejamkan mata walau sekejap karena keempat ’permata’ku sudah antri ingin dimanja. Tak ada lagi acara baca buku bersama karena tenagaku seolah habis tak bersisa. Yang ada hanya kantuk yang makin menggelayut di mata. Celotehan mereka pun hanya kutanggapi sekedarnya.

Tak jarang si sulung asyik main dengan teman-temannya hingga Maghrib tiba dan ketika pulang membawa berjuta kata ajaib yang tak sepantasnya diucapkan anak seusianya. Adiknya pun tak kalah asyiknya dengan game-game baru di komputernya.

Betapa tak adilnya diriku. Pantas saja anakku protes bila jadwal kepulanganku molor dari waktu yang semestinya. Ia bisa membaca kualitas kebersamaanku yang ’hambar’ bila aku pulang telat. Berbeda bila aku pulang lebih awal, aku punya waktu istirahat untuk memulihkan staminaku, dan berinteraksi bersama buah hatiku dengan asupan tenaga baru.

Terimakasih Mas Zuhdi atas ’sentilan’ tanda cintanya.......a great love for you!

Saat Aku Lelah

Putus asa, kupandangi wajah penuh air mata yang tersedu-sedu di pojok kamarku. Sudah setengah jam lebih, dan ia tak jua berhenti menangis. Rupanya teriakanku barusan membuatnya kecewa dan sakit hati hingga ia menangis berkepanjangan. Dan kejadian serupa sudah berulang-ulang terjadi akhir-akhir ini. Hampir seminggu lebih.

Mengapa akhir-akhir ini aku begitu mudah 'bertanduk'?Gampang emosi hanya karena anak-anakku tak henti membuat gaduh dan memporakporandakan rumahku?Pun mulutku begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kasar bila mereka tak mau menuruti nasehatku, bahkan sesekali tanganku menyakiti tubuh-tubuh mungil itu.

Padahal setumpuk buku-buku parenting habis kubaca. Mendidik Dengan Cinta-nya Irawati, Mendidik Anak Cerdas-nya Edwards,Kitchen Table Melody-nya Agnes,Chicken Soup For The Parent's Soul,en seabreg buku lain yang kulahap agar aku bisa mendidik anakku dengan bijak.

Mengapa semua yang kubaca tak lagi memberi inspirasi berarti?

"Masalah-masalah yang diakibatkan oleh ulah anak-anak,ternyata hanya menjadi masalah bagi ibu ketika hati ibu sedang emosi. Manakala sedang tak dikejar weaktu, kondisi badan tak capai, dan saat hati ibu sedang senang, maka kerewelan anak akan mudah dihadapi dengan sabar," papar Irawati Istadi dalam salah satu buku parentingnya.

Mengendalikan emosi. Apakah itu kuncinya?

Lalu, mengapa akhir-akhir ini aku sulit mengendalikan emosiku? Kucoba telusuri hari demi hari yang telah kulewati. Bangun di pagi hari dengan tergesa-gesa. Tak sempat (atau tak menyempatkan diri?) berasyik masyuk dengan-Nya dalam nikmatnya tahajjud, takut anak-anak keburu bangun dan merecoki aktivitas pagiku. Ba'da Shubuh (lagi-lagi) tak menyisihkan sedikit waktu untuk sekedar melantunkan dzikir Ma'tsurat atau selembar mush'af.

Tiba di kantor, disibukkan banyaknya pasien yang antri untuk ditangani, hingga alpa sholat Dhuha. Ketika malam menjelang, kesibukan berkurang, pun anak-anak sudah asyik dalam dunia mimpinya,aku pun ikut terhanyut dalam pelukan malam. Tak ada waktu khusus untuk bermuhasabah atas aktivitasku hari itu, atau sekedar membaca buku, atau bermuraja'ah mengulang hafalan Qur'anku.

Ternyata......Stabilitas emosiku berbanding lurus dengan kejernihan nuraniku. Manakala aku lalai memperbaiki diri dengan ibadah harianku, maka aku tak lagi menikmati manisnya 'bermujahadah' mengasuh amanah-Nya. Yang ada hanya rasa lelah, jenuh, bahkan frustasi karena mereka tak jua berhenti berulah.

Rasanya Jadi Bunda......

Ups......ternyata jadi bunda ndak mudah ya.Apalagi ketika satu per satu baby mungilku lahir ke dunia.Capek,jenuh,dongkol,marah,etc....yg pernah ngerasain jadi ibu tau sendiri deh rasanya...

Tapi semua rasa itu hilang seketika dengan slip pembayaran yang luar biasa : kecupan tiba-tiba yg kudapat menjelang tidur,ucapan cedal si kecil,"Aku cayang ummi.....emmuahh!",senyum sumringah mereka saat menyambutku pulang dari kantor,atau sekedar pelukan erat yang menghangatkan jiwa.

Dulu pernah terbersit olehku,betapa nyamannya 'terlepas' dari rutinitasku mengasuh mereka.Tak perlu repot bikinin minum,nyebokin,nyuapin,melerai mereka ketika berkelahi,membereskan perabotan yang selalu jungkir balik tak karuan,atau tak perlu mendengar teriakan mereka yang memekakkan gendang telingaku.Ingin sebentar saja memanjakan diri dengan tidur-tiduran sambil ndengerin musik yg lembut atau baca-baca novel kesukaanku.

Tapi ternyata aku salah.....Ketika kemarin aku melahirkan si 'princess' Muthia,aku memang bisa terlepas dari kerubutan tiga jagoan kecilku itu.Aku sudah menyiapkan buku-buku parenting untuk menemaniku kala kesepian di RS,buku tulis untuk mencatat,en cemilan ringan untuk ngemil.Eh,bukannya bisa menikmati 'kesendirianku' dengan nyaman,malah tiga wajah usil 'three muskeeters' itu yang bermunculan di benakku.

Yeee......ternyata seheboh apapun mereka,aku tak mampu terpisah walau sejenak.Merekalah sumber inspirasiku yang sesungguhnya.Yang menyemangati hari-hariku untuk terus produktif.Thank's my babies.....you're my really inspiration!!

Career Woman Blues

Lagi-lagi rasa itu datang lagi.Menyergap rutinitas hari-hariku dan meninggalkan goresan luka.Ups,berapa jam lagi waktu yang akan 'kucuri' dari anak-anakku?Pertanyaan yang sama dan terus berulang-ulang dari hari ke hari.

Irinya aku melihat ibu-ibu yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menimang,memeluk,dan mencium buah hatinya.Sesuka mereka.Tanpa terikat waktu kerja yang membelenggu.Tanpa terbebani tugas-tugas kantor yang selalu menumpuk.Tak jua harus terburu-buru menyambut pagi.

Ibu-ibu yang dengan bangga menceritakan kata pertama sang buah hati,memandang dengan takjub saat pertama kali si kecil mulai bisa berdiri,atau ketika kecupan-kecupan kecil membalas segala jerihnya.Sementara aku hanya bisa mendengarnya dari si mbak pengasuh anak-anakku.Bahkan anakku begitu kebingungan ketika tak menemukan pengasuhnya suatu hari,hal yang tak dilakukannya bila kutinggal pergi bekerja.

Bisakah kuhentikan laku 'si pencuri waktu' anak-anakku?Dengan konsekuensi aku harus mengetatkan ikat pinggang semakin kencang karena tiba-tiba saja semua harga kini membubung tinggi.Dan mengecewakan kedua orang tuaku yang menyekolahkan aku hingga tinggi agar jadi pegawai negeri?

Entahlah....mungkin suatu hari.

Masterpiece

Kutahan keluhku sambil memasukkan baju-baju yang barusan kucuci ke mesin pengering.Setengah hari lewat sudah,tapi aku belum juga selesai membereskan rumahku.

Keempat anakku bergantian keluar masuk rumah,meninggalkan noda apapun yang berada di telapak kaki mereka,membentuk noktah warna-warni di atas lantai yang sejurus lalu masih tampak mengkilat setelah kubersihkan dengan susah payah.Remah-remah biskuit dan noda susu menghiasi karpet ruang tengah yang beberapa hari lalu baru saja kuambil dari laundry.Buku-buku berserakan,bahkan beberapa diantaranya sudah robek tak karuan.

Dan ,lihatlah!Tumpukan piring dan gelas kotor kembali menggunung.Dalam hitungan menit sudah tak terhitung berapa puluh kali para liliput itu bergantian minta sirup,susu,atau sepotong pudding dan kemudian meninggalkan wadahnya begitu saja.

Kini mataku tertuju ke jendela kaca yang beberapa jam lalu selesai kubersihkan. Tampak bekas tapak-tapak tangan dan mulut kecil menghiasinya. Noda-noda coklat juga terlihat disana-sini.

Hampir menangis,aku menghempaskan diri di kursi tamu.Meratapi ‘kemalanganku’ membesarkan empat anak yang tak pernah berhenti merepotkanku.

Dering handphone menjerit-jerit dari kamarku.Tanpa gairah aku meraihnya,“Halo….?!”
Suara wanita paruh baya yang sangat akrab di telingaku menyambut sapaanku dengan suka cita.“Kau baik-baik saja,sayang?!”Ups…….rupanya ibu mampu membaca nada suaraku yang setengah hati.

Lalu mengalirlah semua kekesalanku tanpa bisa kubendung lagi.Tentang repotnya menyelesaikan pekerjaan rumah seorang diri.Juga masalah anak-anak yang tak henti membuat kotor rumahku.

“Hmm….”ibuku berdehem pelan.Biasanya ini adalah awal yang akan digunakannya untuk menguliahiku.Tapi kali ini aku sangat membutuhkan bimbingannya.Jadi aku mulai memasang telingaku dengan seksama.
“Kau tahu apa yang ibu rasakan saat ini?”Aku menggeleng pelan walau ibuku mungkin tak bisa melihatnya.

“Aku sangat merindukan masa-masa membesarkan kalian dulu.Aku terkadang membayangkan kau bermain lompat tali di beranda depan bersama kakak-kakakmu.”

“Aku kadang juga masih mendengar bagaimana kalian saling berteriak memperebutkan mainan,dan salah satu dari kalian menangis lalu berlari memeluk ibu…..”Sampai disini kudengar suara wanita tercintaku itu mulai bergetar.

“Juga ketika kau sedang belajar menulis dan mencoreti semua tempat yang bisa kautulisi.”Aku tersenyum kecil,membayangkan lemari,dinding,meja,kursi,bahkan baju kesayangan ibuku yang penuh dengan hasil karyaku. Dan ibu tak pernah menghapusnya sampai sekarang!

“Kau tahu,sayang……ibu tak pernah sanggup menghapus bekas-bekas masa kecilmu itu…karena ibu ingin ia jadi pengingat kala ibu merindukanmu.Seperti saat ini….”Tangis ibuku akhirnya pecah juga.

Jarak yang memisahkan kami terlalu jauh sehingga aku tak bisa sering-sering mengunjunginya.Dan ibu merasakan kehadiranku melalui jejak-jejak masa kecilku itu.

Tanpa mendengar kata-kata selanjutnya,aku sudah bisa menangkap maksud ibuku.
Kuedarkan tatapanku ke sekeliling ruangan.
Hai….tiba-tiba saja rumah yang tadi kulihat begitu berantakan terlihat lebih indah sekarang. Dengan beragam masterpiece yang dibuat oleh anak-anakku.Beragam coretan di dinding,buku-buku yang berserakan,bekas-bekas tapak tangan dan mulut kecil di kaca jendela.Tempelan-tempelan origami hasil karya anak-anakku.

Aku menarik sudut mulutku ke atas dan kemudian tertawa lebar.Karena aku punya banyak pengingat saat merindukan anak-anakku kelak!!
(Terinspirasi dari Chicken Soup)